Senin, 04 April 2011

BURUH MENUNTUT PERBAIKAN JALAN


 “Saya berangkat kerja jam 3 pagi. Supaya ‘gak kesiangan (ke tempat kerja). Tapi pulangnya selalu malam. Karena pagi maupun malam selalu macet,”  keluh Indah. Indah adalah satu dari 72.000 orang buruh nikomas. Ia telah bekerja empat bulan di bagian administrasi. Untungnya, Indah sekarang tinggal di mess. Ia tidak perlu khawatir macet membayanginya. Tapi, “Teman-teman saya pun sekarang selalu kesiangan. Mereka terjebak macet,” tambahnya. Cerita Indah tidak sendirian. Masyarakat yang melewati jalan Ciruas hingga Cikande atau Jalan Raya Serang-Jakarta Kabupaten Serang Banten harus rela menyia-nyiakan waktunya di atas kendaraan hingga dua jam. “Anak saya ditegur gurunya, karena selalu kesiangan masuk sekolah,” ujar seorang warga yang sedang mengantarkan anaknya ke sekolah. “Kalau udah macet, ayam pun kagak bisa lewat,” seloroh Triyono.


Menunggu di atas kendaraan bukan hal menyenangkan, apalagi bagi orang-orang hendak bekerja. Waktu yang terbuang berarti berkurangnya produktivitas bagi perusahaan. Bagi buruh, telat bekerja berarti malapetaka, “ Ada yang disuruh berdiri. Ada yang dicabut KPK-nya (Kartu Pengenal Karyawan). Dan yang pasti harus berangkat lebih awal,” tegas Indah.

Jalan Ciruas adalah jalur utama menuju Kawasan Nikomas Gemilang dan Kawasan Modern Cikande Estate. Ruas jalannya terbilang lebar lebih dari lima meter. Selain dilalui angkutan umum dan sepeda motor, jalan tersebut merupakan jalur utama mobil beroda empat, enam, delapan dan mobil-mobil pengangkut barang-barang pabrik lainnya. Persoalan muncul ketika ada bagian-bagian jalan yang berlubang. Bahkan, jalan di sekitar Pasar Tambak tidak beraspal. Jika hujan mendera, jalan tersebut dipastikan becek: air bercampur dengan tanah, setiap kendaraan pasti mencari ruang yang kering. Pejalan kaki tidak kebagian ruas jalan.

“Lebih dari sepuluh orang mengalami kematian. Belum terhitung yang kecelakaan akibat jalan yang buruk itu,” ungkap salahsatu Pengurus Dewan Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Nasional (DPC SPN) Kabupaten Serang. Sohari menambahkan, jalan berlubang menyebabkan kemacetan. Setiap kendaraan berupaya menghindari lobang-lobang itu.

Sementara itu, buruh-buruh yang bekerja di sekitar Cikande akan berpikir dua kali jika bertahan dalam kemacetan. Daripada kesiangan masuk kerja, lebih baik naik angkutan berkali-kali atau naik ojek. “Karena itu mereka harus mengeluarkan uang Rp 7.000 hingga 8.000. Harusnya, ongkos mereka itu Rp 3.000 sampai Rp 4.000.”

Pukul 06.00 WIB beberapa buruh telah berkumpul di sekitar Pasar Tambak Kecamatan Kibin Kabupaten Serang. Mayoritas perempuan. Ada pula buruh lelaki, yang menggunakan sepeda motor. Di pinggir jalan terlihat sebuah mobil kuning lengkap dengan empat sound dan gensetnya. Bendera organisasi menempel di bagian depan dan belakang mobil. Itulah mobil komando aksi. Di samping mobil itu, beberapa buruh perempuan memegang spanduk sepanjang lima meter. Ada dua spanduk. Isinya tidak jauh berbeda: jalan yang rusak telah mengorbankan jiwa, karena itu harus ada perbaikan jalan. Di seberang jalan saya beberapa perempuan asyik membagikan selebaran kepada pengedara mobil, sepeda motor dan pejalan kaki. Selebaran itu berukuran 20 cm X 15 cm. Isinya menceritakan mengenai Banten sebagai pusat industri, masyarakatnya taat pajak tapi jalannya rusak. Karena itu:
1.       Pemerintah segera memperbaiki Jalan Raya Serang-Jakarta dan memprioritaskan antara Ciruas sampai dengan Cikande.
2.       Dibuat peraturan Daerah tentang Izin Operasional Kendaraan Berat di Jalan Raya pada jam tertentu
3.       Membuat jalan alternatif untuk kendaraan 2, 4, 6, 8, 12, 16, dst.
4.       Memasang lampu penerangan jalan raya selanjang Jalan Raya Ciruas s/d Cikande dan seterusnya s/d Jawilan dan seterusnya
5.       Segera memperbaiki gorong-gorong antara Cikande s/d Selikur


Ruas jalan di Pasar Tambak sekitar sepuluh meter. Para demonstran memanfaatkan pinggir jalan untuk berkumpul. Hanya sekitar empat meter jalan itu beraspal. Sisanya berlantai tanah. Di samping kiri dan kanan berjejer toko, warung, dan bank. Toko-toko rata-rata menyediakan barang-barang elektronik. Di belakang toko tersebut ada kontrakan-kontrakan buruh dan rumah-rumah penduduk. Pasar Tambak adalah salah satu titik macet.  Tidak jauh dari Pasar Tambak adalah kawasan Industri Nikomas Gemilang, PT Spindo Mills, PT PWI, dan “Banyak pabrik di sana,” ujar Sugianto.

Pukul 07.00 WIB para buruh berdatangan. Mereka berencana melakukan protes ke Gubernur Banten Hajjah Ratu Atus Chosiyah. Setelah dirasa siap, sound mulai dinyalakan. Para buruh mulai mencoba suaranya: orasi. Berkali-kali orator mengajak masyarakat sekitar untuk terlibat aksi dan menuntut perbaikan jalan. Masyarakat pasar hanya melihat dan tetap menjalankan aktivitasnya.

Menurut para demonstran buruknya jalan telah merugikan semua pihak, tidak hanya buruh. “Perbaikan jalan adalah tanggung jawab negara,” teriak Triyono dari atas mobil komando. “Dari Pakupatan hingga Ciruas masih banyak begal (perampok) dan banyak kecelakaan,” ujar Sohari menegaskan pentingnya penerangan jalan.

Kendaraan melaju dengan pelan. Seorang pengurus dewan pimpinan cabang serikat berteriak, “Maju!.. Maju!.. Macetkan jalannya!”

Dua puluh meter dari tempat berkumpul adalah lorong jembatan layang yang menuju Jakarta. Tepat dilorong itu peserta aksi berhenti. Di panggir jalan, ada beberapa tukang ojek sedang duduk-duduk di warung kopi. Mereka mengacukan jempol sebagai pertanda setuju. Ada pula yang mendorong teman-temannya, “Hayu ikutan sana!”

Setelah memacetkan jalan. Peserta longmarch menaiki mobil, motor. Mereka memutuskan untuk langsung menuju Kantor Gubernur. 

Sepanjang jalan, pandangan masyarakat memandang penuh tanya: ada yang tersenyum, ada yang mengacungkan jempol. Peserta aksi rata-rata menggunakan sepeda motor, sisanya menyewa angkutan umum. Mobil komando berada di depan peserta aksi. Kadang peserta yang naik motor jalan lebih awal. Berdemonstrasi seperti mendapatkan kebebasan penuh. Lampu merah, lampu hijau dan kuning tidak ada artinya. Jalan terus. Kalau mau berhenti pun tidak masalah.

Ada beberapa polisi yang mengawal aksi. Salah satu polisi tampak kesal, karena dengan sengaja jalan dimacetkan oleh demonstran. “Hari ini kita macet, supaya nanti tidak macet lagi,” ujar orator dari atas mobil komando. Para demonstran semakin berani. Tumbuh kekuatan dari kebersamaan. Dengan menempelkan bendera bertuliskan SPN dengan latar putih, mereka seperti mendapat ajimat bebas teguran polisi. Di beberapa motor lain saya melihat bender berlatar biru dengan bertulisan RTMM KSPSI.

Sebenarnya, tidak hanya SPN dan KSPSI yang beraksi. Di selebaran ada banyak organisasi yang terlibat seperti LMP Jawilan, Aliansi Masyarakat Peduli (AMP Banten), Paguyuban Angkot Serang Timur (PASTI), Ikatan Mahasiswa Serang Timur
(IMASETI), Ikatan Pelajar Serang Timur (IPASETI), Perjuangan Rakyat Miskin Serang Timur (PARAM SETI), Aliansi Masyarakat Kawasan Industri (ALMAKI), BPPK Banten, Tokoh Pemuda dan Masyarakat Timur, Jaringan Informasi Elit-Serang Timur (JIE SETI), Jaringan Advokasi dan Monitoring Pekerja Indonesia (AMPI). Hari itu mereka menamakan diri Gerakan Masyarakat Serang Timur.

“Ia sih, yang ada cuman SPN dan SPSI,” ujar Triyono. Ia tidak merasa aneh jika yang terlibat hanya beberapa organisasi. Meski di selebaran disebutkan beragam organisasi.

Sekitar pukul 11.00 WIB peserta aksi berada di kantor Gubernur Banten. Peserta aksi tumpah ruah. Motor diparkir. Sebagian peserta ada yang berteduh di pendopo. Ada juga yang tampak berkerumum. Sekali lagi, peserta aksi bergantian berorasi. Para wartawan berebut mengambil gambar, dan meminta selebaran. Polisi berjejer di pinggir. Gaya berorasi beda-beda. Ada yang memaki, ada pula yang memelas seperti orang kehausan, dan ada pula yang menggunakan bahasa daerah. Beberapa perempuan dengan semangat berorasi mengeluarkan unek-unek dan kekesalan mereka.

Dari dalam Kantor Gubernur ada sebuah suara yang menyatakan bahwa aksi mereka diterima. “Silakan sepuluh orang masuk.” Itulah pertanda negosiasi antara warga dan pemerintah akan berjalan.

Aksi terus berjalan. Suasana sempat riuh ketika sepasukan seniman Janthilan bermain. Atraksinya bertema seorang penguasa yang lalim. Keadaan semakin gegap ketika beberapa buruh memainkan teater. Teater itu menceritakan mengenai pemerintah yang lebih sibuk mengurus proposal dengan pengusaha, sementara jalan dibiarkan tanpa perawatan dan mengakibatkan korban.

Menuju pukul 14.15 WIB negosiasi berakhir. Akhirnya, pemerintah yang diwakili dinas tenaga kerja dan dinas pekerjaan umum keluar dan mengumumkan hasil-hasil negosiasi. Inti negosiasi itu menyatakan bahwa Pemerintah Daerah Provinsi Banten akan merealisasikan perbaikan infrastruktur Jalan Lintas Provinsi sepanjang 7,5 KM yang pelaksanaannya akan segera dimulai secepatnya atau paling akhir pertengahan bulan April. 



29 Maret 2011
Syarif Arifin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar